BLANTERORBITv102

    Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja | Imam Al-Muhasibi

    Selasa, 18 Februari 2025

    Mengapa Kita Harus Bekerja

    Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja?

    Etika dalam Menjemput Nikmat Sang Pencipta

    Tidak ada takdir yang datang terlambat dan makhluk yang tidak mendapatkan rezekinya, tulis Imam Al-Muhasibi dalam pengantarnya.

    Beliau menekankan, bahwasanya seluruh makhluk memiliki takdir dan jatah rezekinya masing-masing. Semuanya berjalan sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

    "Masing-masing dari mereka (makhluk) bercakap-cakap dengan bahasa yang hanya dipahami oleh mereka sendiri, sehingga yang lain tidak mungkin mengerti. Masing-masing mereka berjalan di atas takdir yang telah digariskan, hidup dengan rezeki yang telah ditentukan, mendapatkan makanan yang telah adil dibagikan, dan mengantongi ajal yang telah ditetapkan," tegasnya.

    Imam Al-Muhasibi memulai bab pertama kitab Al-Makasib (Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja) dengan pembahasan terkait tawakal; Bagaimana seharusnya kita bertawakal kepada Allah ta'ala?

    Tawakalnya seorang hamba ialah dengan meyakini dan membenarkan bahwa Allah yang membagi rezeki, mencukupi kebutuhan, membukakan jalan untuk mencarinya, dan menakdirkan makanan yang telah dijatah untuknya pada waktu yang ditentukan. Dia meyakini bahwa Allah yang melimpahkan rezeki dan menahannya. (h. 23)

    Akan tetapi, walau seorang hamba berusaha tawakkal dan melakukannya, seringkali dirinya masih dihinggapi oleh hawa nafsu, gelisah bila keinginannya tak  terpenuhi, bimbang bila diterpa musibah, sombong dengan usaha yang dilakukannya, bahagia saat harta melimpah, lupa diri saat hidup mewah, sedih bila kehilangan sesuatu, dan bahagia bila memperolehnya. (h. 25)

    Kata Imam Al-Muhasibi, sifat-sifat tercela ini sudah Allah lukiskan dalam Al-Qur'an;

    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ 

    Dijadikan indah bagi (pandangan) manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang terbaik (surga). (Ali Imran: 14)

    كَلَّا بَلۡ تُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ . وَتَذَرُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ  

    Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. (Al-Qiyamah: 20-21)

    وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ عَجُولٗا

    Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al-Isra’: 11)

    Walau dengan watak-watak demikian, selagi manusia meyakini dan mengimani bahwa Allah yang mengatur, membagi, dan mencukupi rezeki maka dia tetaplah dianggap bertawakal.

    Karena Allah memperbolehkan manusia mencari nafkah, tapi tidak memerintahkan manusia untuk menghilangkan watak yang sudah tercetak di dalam dirinya. (h. 30)

    Salah satu bab paling menakjubkan--menurut saya--dalam kita Al-Makasib (Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja) ini ialah ketika Imam Al-Muhasibi membahas tentang Ketentuan dalam Mencari Rezeki.

    Beliau menuliskan, pekerjaan tercela adalah pekerjaan yang melampaui batas dan menyelisihi perintah Allah. Sedang pekerjaan terpuji adalah pekerjaan yang sesuai dengan perintah Allah dan menahan diri dari melanggar batasan-batasan syariat, sehingga perkerjaan tersebut menjadikannya wara', berhati-hati, dan bertakwa.

    Selanjutnya, beliau mempresentasikan tentang para sahabat dalam perihal mencari rezeki.

    Pekerjaan yang paling mulia adalah pekerjaan sahabat, tabiin, dan orang-orang mu'min pilihan di setiap masa. Mereka adalah sosok yang mulia dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah ta'ala. Dan amalan-amalan mereka melampaui umat Islam pada umumnya. Mereka adalah gambaran orang-orang yang memiliki tawakal sempurna.

    Ketaatan yang luar biasa menuntun mereka dalam kecukupan dan membimbing mereka dalam kebenaran mencari rezeki. Dengan level ruhani yang sangat mumpuni itu, mereka enggan menyianyiakan waktu, mengambil sewajarnya, dan tidak tertarik menumpuk harta.

    Para sahabat dan orang-orang soleh mencari rejeki hanya demi patuh dan taat pada perintah Allah. Cara kerja mereka sangat berbeda dengan orang-orang yang bernafsu mengejar harta dunia. Kerja mereka sama sekali tidak merusak dzikir, tidak mengurangi kedekatan hati dengan Sang Pencipta dan tidak menodai kedudukan mereka di sisi-Nya.

    Hal tersebut sangat berbeda dengan orang-orang di masa kini. Hari ini, orang-orang bekerja siang dan malam, berangkat pagi pulang petang. Hingga perintah-perintah Allah dilalaikan; shalat ditinggalkan, dzikir dilupakan, majelis ilmu diabaikan. Bahkan, malah terjerumus dalam dosa dan kemaksiatan.

    Kemudian, Imam Al-Muhasibi juga membahas tentang sifat wara’. Beliau memberi tiga definisi terkait wara' yang dinukil dari Abu Ja'far,

    Pertama, meninggalkan sesuatu yang mengganjal dalam hati.

    Kedua, meninggalkan perkara syubhat (sesuatu yang belum jelas halal dan haramnya).

    Ketiga, meninggalkan hal-hal tidak berdosa demi terhindar dari dosa.

    Wara’ bisa dicapai dengan menjauhi empat hal, sebagaimana yang beliau dapati dari gurunya,

    Pertama, menjauhi seluruh larangan Allah yang berkaitan dengan akidah seperti kesesatan dan bid'ah.

    Kedua, menjauhi seluruh larangan yang berkaitan dengan sesuatu yang diharamkan baik untuk anggota tubuh maupun hati.

    Ketiga, meninggalkan perkara-perkara syubhat.

    Keempat, meninggalkan perkara-perkara halal yang ditakutkan bisa menjatuhkan dalam keharaman.

    Catatan lain dari buku Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja:

    Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D., bahwasannya kitab Al-Makasib merupakan “etika ekonomi” yang digagas oleh Imam Al-Muhasibi. Dan gagasan ini merupakan wawasan modern yang melampaui zamannya, karena pembicaraan terkait rezeki dan pekerjaan adalah hal baru pada masa itu.

    Kemudian pemilihan Al-Makasib bukanlah kebetulan atau asal-asalan, melainkan menawarkan konsep atau sebuah bidang ilmu tersendiri. Maka tidak heran bila kitab Al-Makasib berbicara tentang rambu-rambu dan etika dalam mencari rezeki.

    Catatan baik lainnya terhadap buku ini ialah adanya footnote pada nama-nama yang muncul dalam pembahasan. Sehingga pembaca mengetahui siapa sosok yang dinukil perkataannya. Selain itu, buku ini menyertakan intisari yang memudahkan pembaca untuk mendapatkan gambaran terkait pembahasan yang ada di dalamnya.

    Di sisi lain, pembaca juga harus bijak dalam mengikhtisarkan salah satu sajian dalam buku ini. Ketika beliau membahas seorang ulama sufi yang mengatakan, bekerja adalah perbuatan maksiat, karena berkeyakinan bahwa Allah menjamin rezeki seluruh makhluk dan orang yang mencari rezeki menyiratkan keraguan terhadap janji dan jaminan-Nya. Bahkan, sampai pada tahap; keengganan bekerja adalah kemuliaan. Pendapat ini tentu saja keliru, sebagaimana yang telah dibantah Imam Al-Muhasibi pada halaman-halaman selanjutnya.

    Siapakah Imam Al-Muhasibi?

    Imam Al-Muhasibi (Abu Abdullah Al-Harith bin Asad Al-Baghdadi) adalah seorang ulama besar dalam bidang tasawuf. Bahkan bergelar Bapak Ilmu Tasawuf. Ia lahir di Baghdad pada abad ke-2 Hijriyah (sekitar 165 H/781 M) dan dikenal karena ketakwaan, kezuhudan, serta sikap wara’-nya yang luar biasa. 

    Beliau banyak menulis tentang akhlak, zuhud, dan introspeksi diri (muhasabah), yang menjadi dasar bagi perkembangan tasawuf. Karya-karyanya yang terkenal antara lain "Ar-Ri‘ayah li Huquqillah" dan "At-Tawahhum".  

    Di antara sifat wara' Al-Muhasibi ialah dia menolak warisan dari ayahnya karena menganggap ada syubhat dalam keyakinan ayahnya tentang Al-Qur'an. Ia juga dikenal sangat berhati-hati dalam masalah makanan, hanya mengonsumsi yang benar-benar halal.  

    Meskipun dihormati oleh banyak ulama, Imam Ahmad bin Hanbal memperingatkan orang-orang agar tidak mengikuti cara hidupnya yang sangat ketat. Namun, ajaran dan pemikirannya tetap berpengaruh dalam dunia tasawuf hingga kini. Al-Muhasibi wafat di Baghdad pada tahun 243 H (857 M). 

    Kitab-kitab karangannya direkomendasikan untuk orang-orang yang sudah memiliki keilmuan mapan dan tidak dianjurkan untuk pemula, karena beberapa pembahasannya terlalu mendalam dan berbeda dari metode salaf. (Lihat fatwa: Imam Al-Muhasibi)

    Identitas Buku:

    Judul: Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja 
    Judul asli: Kitabul Makaasib
    Penulis: Imam Al-Muhasibi
    Penahkik: Abdul Qadir Ahmad Atha'
    Penerjemah: Abdul Majid, Lc.
    Penerbit: Rene Turos Pustaka
    Tahun terbit: Juli 2022
    Tebal: 208 hal.
    ISBN: 978-623-7327-70-7
    Genre: Islam

     

    Demikian ulasan dari buku Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja. Semoga bermanfaat. 

     



    Author

    Moera Ruqiya

    Panggil aku, Moera.